Headlines News :
Home » » Mengenal Kota Damaskus, Masjid Umawi dan Kota Kirwan

Mengenal Kota Damaskus, Masjid Umawi dan Kota Kirwan

Written By Ijam Jamaludin on Selasa, 19 Februari 2013 | 08.40


Kota Damaskus

Damaskus adalah sebuah kota tua. Kota ini didirikan sebelum kelahiran Nabi lbrahim ‘alaihissalam. Banyak legenda / dongeng tentang pendirian kota ini. Kota ini memiliki banyak sungai dan kebun. Letak kota berada pada tanah yang datar dikelilingi oleh gunung yang tinggi di sebelah Utara dan Baratnya.

Kaum muslimin berhasil menaklukannya pada tahun 14 H pada masa pemerintahan `Umar bin Al Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Ketika itu mereka di bawah panglima Abu ‘Ubaidah bin Al Jarrah, Khalid bin Al-Walid, dan Yazid bin Abu Sufyan. Termasuk peninggalan yang terus ada dari Daulah Umawiyyah di Damaskus adalah saluran irigasi. Pengaturan saluran ini diatur dengan pengaturan yang sangat jeli. Setiap rumah besar memiliki pancuran air sendiri karena adanya parit-parit yang dibuat oleh Bani Umayyah agar air sampai ke pelosok kota. Saluran air yang besar dibangun di atas tiang-tiang untuk menyalurkan air minum ke rumah-rumah. Istana khalifah yang ada di Damaskus menjadi istana yang unik dan indah. Dindingnya dibuat dari marmer, dikelilingi dengan kebun-kebun yang rimbun. Diselingi dengan pancuran air yang membuat udaranya menjadi sejuk dan menambah indahnya panorama dan keanggunannya. Menyukai perindahan kota Damaskus tidak menjadi hak para khalifah saja, para gubernur dan pembesar pun berlomba-lomba memperindah kota Damaskus dan kota-kota besar lainnya.

Masjid Umawi di Damaskus
Al-Walid bin ‘Abdul Malik memulai pembangunannya pada tahun 88 H. Beliau sangat memerhatikan pembangunannya dan dalam mengucurkan dana untuk hal ini. Sampai-Sampai dikatakan bahwa beliau mengeluarkan dana untuk pembangunannya yang sebanding tujuh tahun hasil panen. Masjid ini menjadi salah satu mercu suar pembangunan. Sampai pada masa yang kita masih hidup sekarang ini, masjid itu masih menjadi barometer dalam ketelitian dan keahlian yang tinggi yang dicapai oleh kaum muslimin pada masa pemerintahan Bani Umayyah.
Masjid ini dijuluki dengan Masjid Jaami’ul Mahaasin (yang mengumpulkan segala keindahan), kaamil gharaa-ib (memiliki keunikan yang sempurna), dan salah satu keajaiban. Mihrabnya dihias dengan batu-batu permata yang mahal, digantungi padanya lampu dari emas dan perak yang rantai gantungannya juga dari emas yang indah.
Diantara kaum muslimin ada yang mencela Al-Walid dan menuduhnya dengan perbuatan yang sia-sia / mubadzir. Namun beliau berkeinginan agar masjid itu menjadi barometer kekuatan kaum muslimin dan sebagai tanda yang akan membuat musuh mengetahui bagaimana kaum muslimin ketika itu mencapai tingkat kehidupan yang mapan, kaya, dan maju. Beberapa kejadian setelahnya menunjukkan akan jauhnya cara pandang AlWalid.
Telah ada kisah bahwa ‘Umar bin ‘Abdul `Aziz ketika memegang tampuk kekuasaan, beliau berkeinginan memperkaya kas negara sesuai dengan kemampuannya. Beliau pun berkeinginan untuk mencabut rantai emas yang digantung dengannya lentera-lentera emas dan lampu-lampu emas di masjid ini kemudian diganti dengan tali atau rantai besi. Akan tetapi keinginan itu bertepatan dengan datangnya duta dari penguasa Romawi ke Damaskus. Mereka berkeinginan mengunjungi masjid Al-Umawi, ‘Umar pun mengijinkannya dan mewakilkan kepada seseorang yang menguasai bahasa mereka. Ketika mereka menyaksikan keindahan bangunan dan keserasian masjid, menyaksikan ukiran-ukiran dan rantai-rantai emas yang memenuhi masjid yang besar maka mereka pun menundukkan kepala karena kecewa dan sedih. Pimpinan duta itu mengatakan: “Kami bangsa Romawi dahulu menyangka bahwa keberadaan kaum muslimin hanya sebentar saja. Namun saya sekarang – dan saya telah menyaksikan apa yang mereka bangun- mengetahui bahwa mereka (kaum muslimin) akan mencapai suatu masa (kejayaan) yang pasti mereka akan mencapainya. “
Ketika ucapan ini sampai kepada pendengaran ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz maka beliaupun mengurungkan rencananya semula dan membiarkan rantai-rantai emas dan hiasan-hiasan itu tetap ada untuk membuat musuh marah dan menenangkan hati kaum muslimin.

Kota Kirwan / Qairuan
Kota besar ini terletak di bagian utara Afrika, sekarang termasuk dalam wilayah negara Tunisia, dari kota Tunis berjarak 165 km. Kota ini mulai dibangun pada masa pemerintahan Mu’awiyah bin Abu Sufyan radhiyallahu ‘anhu.
Kisahnya adalah ketika Mu’awiyah mengangkat ‘Uqbah bin Nafi’ sebagai kepala negara bagian Afrika (yaitu Afrika Utara yang terletak di sebelah barat Mesir). Di kota ini orang-orang Barbar yang masuk Islam dikumpulkan sehingga tersebarlah Islam di kalangan mereka. ‘Uqbah – ketika itu – mengumpulkan rakyatnya dan menawarkan kepada mereka pembangunan sebuah kota yang nantinya akan dihuni oleh kaum muslimin sehingga nantinya akan menjadi benteng bagi Islam di negeri ini (Afrika Utara). Mereka menyetujui pendapatnya. Lalu mereka mendatangi daerah yang sekarang menjadi kota Kirwan yang ketika itu hanyalah sebuah padang yang besar dipenuhi dengan pohon-pohon, penuh dengan binatang liar, ular, binatang buas, dan serangga-serangga yang mengganggu. Rakyatnya mengatakan: “Kami menghawatirkan diri kami dari (keganasan) binatang buas dan liar. ” ‘Uqbah memberikan semangat pada mereka dan berdoa kepada Allah agar Dia menolong mereka. Binatang-binatang buas itu pun terpencar-pencar karena keutamaan dari Allah dan rahmat-Nya. Mulailah mereka membangun. Ketika itu j umlah mereka adalah 18.000 orang yaitu pada tahun 50 H .
Semenjak dibangun sampai masa sekarang ini kota Kirwan memiliki fungsi yang besar dan peran yang besar pula. Kota ini semakin berkembang dan semakin maju bersama bertambahnya tahun. Sekolah-sekolah dan ma’had-ma’had (pondok pesantren) bertambah banyak. Jadilah kota ini sebagai salah satu kota-kota induk pada negara Islam.
Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kepada kita petunjuk ini, kita tidak akan bisa mendapatkan hidayah seperti ini bila Allah tidak memberikannya kepada kita.

Sumber: Disalin dari buku “TARIKH DAULAH UMAWIYYAH”, Jami’atul Imam Muhammad bin Su’ud al-Islamiyyah, Riyadh Saudi Arabia, Penerjemah: Fathul Mujib, Muroja’ah: Ustadz Abu Muhammad ‘Abdul Muthi, Lc Hafizhahullah, Penerbit Hikmah Ahlus Sunnah, Cet.Kedua.
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !


http://reddragondesigns.net/
Hover Effects
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. . - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template